Rabu, 12 November 2014

Pondok Pesantren Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari, Balikpapan



Pondok pesantren ini didirikan dan diasuh oleh K.H. Syarwani Zuhri, ulama besar yang pernah belajar kepada beberapa syaikh di Timur Tengah selama 12 tahun.
Tanah seluas 30 ha itu dulunya hutan semak belukar. Pada pertengahan tahun 1987, tanah yang terletak di Km 19,5 Jalan Raya Balik­papan-Samarinda tersebut kemudian dibuka dan di atasnya didirikan pondok pesantren yang nama lengkapnya Pon­dok Pesantren Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Pondok pesantren ini didirikan oleh K.H. Syarwani Zuhri, ulama besar yang pernah belajar kepada beberapa syaikh di Timur Tengah selama 12 tahun, dan terutama berguru kepada Almaghfurlah Guru Muhammad Syarwani Abdan  Bangil. Atas pesan Guru Bangil pula, ia berdakwah di Balikpapan. Sementara, teman seperguruannya, yaitu Zaini Abdul Ghani, yang kemudian terkenal dengan sebutan ”Guru Ijai”, ber­tugas di Martapura.
Kedua murid itu kini sudah menjadi ulama besar dan berhasil mengasuh pondok pesantren dan majelis ta’lim yang besar. Sayang Guru Ijai meninggal lebih dahulu. Kini K.H. Syarwani Zuhri isti­qamah meneruskan dakwah gurunya di Balikpapan.
Pembangunan Pondok Pesantren Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari dimulai pada 1987. Perataan tanah pada 1990 dibantu oleh Den Zipur Kodam VI Tanjung Pura. Pada tanggal 13 Maret 1993, diresmikanlah pondok pesantren ini.
Kini di pondok pesantren ini sudah ter­sedia masjid, gedung Ma’had Aly, penginapan santri, perumahan para ustadz, selain rumah untuk pengasuh pon­dok pesantren. Di samping itu juga perpustakaan, puskesmas, kantin, dan lapangan olahraga.
K.H. Syarwani Zuhri memulai proses pen­didikan di pesantren ini awalnya ha­nya dengan 45 santri. Waktu itu ia masih sendirian. Kini, jumlah santri di Pondok Pesantren Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari ada sekitar 470 putra dan 159 putri. Santri putri memang masih sedikit, karena pondok pesantren putri baru di­dirikan tahun 2004.
Begitu juga, kini K.H. Syarwani Zuhri tidak sendirian lagi, ia dibantu 25 ustadz senior dan beberapa guru bantu. Di an­tara para ustadz itu adalah Ustadz H. Jailani Mawardi Al-Hafizh, alumnus Madrasah Shaulatiyah dan Sayyid Muhammad Al-Maliki Makkah, Ustadz H. Muhammadun, S.Pd.I., alumnus Darul Musthafa Tarim, Yaman, Ustadz H. Zainal Ilmi, Lc., alum­nus Rubath Tarim, Yaman, Ustadz H.A. Mu’in, alumnus Darul Musthafa Tarim, Yaman, Ustadz H.M. Faluis, alumnus Darul Musthafa, Tarim, Yaman, yang juga anak Almagh­furlah Guru Syarwani Abdan, Bangil.
Para alumnus Pondok Pesantren Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari diterima di masyarakat. Banyak di antara mereka mengisi jabatan imam dan peng­urus masjid di Kalimantan Timur, khu­susnya Balikpapan. Ada pula yang me­lanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, karena Pondok Pesantren Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari juga mem­bekali alumninya dengan Ijazah Paket C, yang setara dengan SMA.
Pondok pesantren ini membiayai pen­didikannya dari sumbangan orangtua san­tri,  masyarakat, serta usaha mandiri pondok pesantren, yaitu usaha peterna­kan sapi serta pabrik roti. Tentu saja, ban­tuan pemerintah dan sumbangan der­mawan juga sangat diharapkan.

Gemblengan Banyak Guru
K.H. Ahmad Syarwani Zuhri lahir di Desa Sungai Gampa Marabahan, Keca­matan Rantau Badauh, Kabupaten Ba­rito Kuala, Kalimantan Selatan, kurang lebih 40 km dari kota Banjarmasin, pada tanggal 8 Agustus 1950, dari pasangan Haji Zuhri bin Haji Acil dan Hajjah Mar­wiyah binti Haji Khalil. Haji Zuhri adalah seorang petani biasa yang wara’. Ia lahir dalam lingkungan adat keluarga yang sangat fanatik.
Awalnya, Ahmad Syarwani kecil di­masukkan ke sekolah agama Islam ting­kat Ibtidaiyah dan kemudian Tsanawiyah di Madrasah Sulam ‘Ulum di Desa Su­ngai Gampa (1959-1961). Ia diasuh para guru, terutama K.H. Muhammad Marzuki Musthafa, hingga berhasil meneruskan ke tingkat selanjutnya.
Kemudian ia belajar di Madrasah ‘Aliyah Pondok Pesantren Darussalam di Martapura, Kalimantan Selatan. Ma­suk tahun 1962, lulus tahun 1970. Pada masa itu pondok pesantren ini di bawah asuhan Guru Tuha, yaitu K.H. Abdul Qadir Hasan dan K.H. Anang Sya’rani Arif (muhaddits Kalimantan).
Atas dorongan orang tua dan para guru agama, ia melanjutkan menimba ilmu ke kota Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, pada Pondok Pesantren Datuk Kelampian selama tiga tahun (1970-1973), yang diasuh Guru Syarwani Abdan.
Kemudian, atas pengarahan dan do­rongan serta doa restu sang guru, ia me­lanjutkan pendidikannya ke luar negeri, Arab Saudi, dan kemudian bermukim di sana. Ia berada di Timur Tengah selama lebih kurang 12 tahun.
Selama di Makkah Al-Mukarramah, ia sempat menimba ilmu dari tokoh-tokoh Islam dunia, ulama-ulama dan guru-guru besar Al-Haramain: Makkah dan Madinah. Antara lain, Yang Mulia Syaikhuna Sayyid Muhammad Amin Kutbi, Asy-Syaikh Muhadditsul Al-Ha­ramain Hasan bin Muhammad Al-Masysyath (mufti Makkah Al-Mukar­ramah), Asy-Syaikh Al-’Allamah Muham­mad Yasin bin ‘Isa Al Fadani Al-Makki (direktur Madrasah Ad-Diniyah Darul ‘Ulum Makkah Al-Mukarramah), Asy-Syaikh Muhammad Nursayf Rahimahul­lah, Al-Habib Al-’Alim Al-Allamah Abdul Qadir bin Ahmad As-Seggaf (wali quthb, Jeddah), Asy-Syaikh Al-’Arif billah Al-Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Habsyi, Asy-Syaikh Muhadits Al-Haramain Al-Habib Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani, Asy-Syaikh Isma’il bin Zein Al-Yamani Al-Makki, Al-Habib Al-Muhad­dits Syu’aib Abu Madyan, Asy-Syaikh Al-Faqih Al-’Allamah Zakariyya bin Ab­dullah Billa, Asy-Syaikh Al-Muhaddits Umar Hamdan At-Tunisi.
Sedang di kota Madinah Al-Muna­warrah, ia sempat belajar dan memper­dalam ilmu kepada Asy-Syaikh Al-Hafizh Zakariyya Kandahlawi Al-Madani, Asy-Syaikh Al- ‘Arif billah Muhammad Fahmi Al-Madani, dan Asy-Syaikh Sayyid Mu­ham­mad Al-Muntasir Al-Kattani (Mufassir).
Walau cukup lama di Makkah dan Ma­dinah, rupanya dahaga ilmunya be­lum terpuaskan. Maka berangkatlah ia ke Syria, untuk belajar sertra meng­ambil ijazah ilmu-ilmu tafsir dan ilmu-ilmu ha­dits kepada para ulama di sana. Antara lain Al-Hafizh Al-’Alim Allamah Al-Mu­haddits Sayyid Muhammad Badaruddin Al-Husaini Ad-Dimasyqi, Asy-Syaikh Al-Allamah Al-Arif billah Izzuddin Al-Ghaz­nawi, Asy-Syaikh Al-Allamah Al-Mufassir Muhammad Asy-Syami, As-Syaikh Al-’Alim Al-’Allamah Muhammad An-Nabha­ni (pengasuh Madrasah Diniyah An-Nahdlatul Ulum Al-Halabi), As-Syaikh Al-’Alim Al-Allamah Rasyid Rasyad Ad-Dimasyqi.
Dari Syria, ia menuju Irak. Di sana, ia memperdalam ilmu dengan beberapa ulama besar. Antara lain  Al-’Allamah Al-Muhaddits Abdul Hay An-Naisyabur, Al-Allamah Mahmud bin Ahmad Al-Bagh­dadi, Asy-Syaikh Al-Arif Billah Muham­mad Bisa Ahmad As-Sayid Ar-Rifa’i, Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Quthb Al-Ghauts Al-Akbar Muhammad Al-Fasi, Sayyid Ahmad bin Muhammad Mahyud­din Al-Husaini.
Setelah menuntut ilmu di Irak, ia me­lanjutkan pengembaraannya ke Negeri Piramida, Mesir, yang cukup terkenal sebagai gudangnya ilmu dan ulama. Di sana, ia memperdalam ilmu kepada para ulama negeri itu, seperti Asy-Syaikh Al-Imam Al-’Arif billah Sayyid Muhammad bin Shaleh Al-Ja’fari (imam mufti Al-Azhar Syarif, Mesir), Asy-Syaikh Al-Alim Al-Allamah Hasanain Muhammad Makh­luf (mufti Mesir), Asy-Syaikh Prof. Dr. Al-Imam Abdul Halim Mahmud (rektor Al-Azhar University, Mesir), Al-’Alim Al-Allamah Syaikh Muhammad Sulaiman bin Muhammad An-Namiri At-Thanthawi (rektor University Jami’ah Muhammiyah Asy-Syafa Thantha).
Kemudian ia ke Maroko. Di sana, ia antara lain belajar kepada Al-Hafizh Al-Muhaddits Sayyid Ahmad bin Shiddiq Al-Ghumari, Al’Alim Al-Allamah Syaikh Abdul Aziz Shiddiq Al-Ghumari, Asy-Syaikh Al-’Allamah Asy-Syarif Muham­mad bin Abbas Al-Fasi Al-Hasani.
Lalu, ia hijrah ke Yaman. Di sana antara lain ia memperdalam ilmu kepada Asy-Syaikh Al-Allamah Al-Faqih Yahya Al-Ahdal, Al-Arif billah Sayyid Abu Madyan, Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Faqih Abdullah Al-La­hiji, Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Al-Yamani Ahmad bin Yahya bin Abdul Wasyi.
Ia juga pernah mengambil ijazah dari dua ulama besar negeri Sudan, yaitu Syaikh Ibrahim Ar-Rasyidi As-Sudani dan Syaikh Al-’Allamah Ahmad Jabarti.
Begitulah waktu terus berjalan, hing­ga akhirnya pada tahun 1986 ia kembali ke tanah air, dan langsung menuju kam­pung halaman di Sungai Gampa Mara­bahan, Barito Kuala, Kalimantan Selat­an. Kedua orangtuanya selalu menanti kedatangan anaknya yang tercinta yang sudah dua belas tahun menetap di Timur Tengah.
Atas inisiatif keluarga, ia kemudian membeli rumah di Martapura, yaitu di Jalan Pesayangan Gang Kurnia RT I No. 1.
Beberapa saat ia menempati rumah yang baru dibeli, sambil merasakan nik­matnya barakah berkumpul dengan guru-guru dan ulama-ulama di Marta­pura, seperti K.H. Samman Mulia, K.H. Muhammad Zaini Ghani, K.H. Husin Dahlan, K.H.M. Ramli Radhi, K.H. Badaruddin, K.H. M. Royani.
Namun kemudian beberapa keluar­ga dan kawan seperguruan sekaligus gurunya, K.H. Muhammad Shafwan (Guru Handil), Handil 6 Muara Jawa, sa­ngat mengharapkan supaya ia bisa meng­ajar di Balikpapan khususnya, Kali­mantan Timur umumnya.
Maka ia pun melakukan shalat Isti­kharah, sambil menanti saran serta per­timbangan dari guru yang mulia, K.H. M. Syarwani Abdan, Bangil.
Qadar Allah SWT berlaku jua. De­ngan penuh rasa ikhlas, ia pindah dan menetap di Balikpapan.
Dengan bantuan dan dorongan istri setia, ia dapat membeli rumah yang se­derhana di Balikpapan Timur.
Maka begitulah, pada pertengahan tahun 1987, mulailah dibangun Pondok Pesantren Syech Muhammad Arsyad Al-
Banjari
                                          .
Pondok Pesantren Syaikh Muhamamd Arsyad Al-Banjari merupakan pesantren salaf yang hanya fokus pada kajian kitab-kitab ulama semata.
BEBERAPA KITAB YANG DIPELAJARI

  • Kitab Tafsir Al-Jalalain (Hasyiyah Al-Shawy)
  • Kitab Tafsir Imam Ibnu Katsir
  • Kitab Qawaidul Asaasiyah (Ushul Tafsir)
  • Kitab Hadits Arba'in An-Nawawiyah
  • Kitab At-Targhib wa At-Tarhib
  • Kitab Shahih Al-Bukhari
  • Kitab Shahih Imam Muslim
  • Kitab Sunan Abi Daud
  • Kitab Sunan Al-Turmidzi
  • Kitab Sunan Al-Nasa-i
  • Kitab Sunan Ibni Majah
  • Kitab Mabadiy Al-Fiqhiyyah
  • Kitab Ghayah Al-Taqrib
  • Kitab Fathul Qarib al-Mujib (Syarh Al-Taqrib)
  • Kitab Hasyiyah Imam Al-Bajuri
  • Kitab I'anatuth Thalibin (Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathi
  • Kitab Kanzul Raghibin 
Dan lain sebagainya (Ini hanya sebagian kecil dari kitab-kitab yang dipelajari)


BEBERAPA MASYAYIKH DAN ASATIDZ

  • Al-Mukarram KH. Jailani Mawardi
  • Al-Mukarram KH. Muhammadun Mawardi
  • Al-Ustadz Zuhri Thamrin
  • Al-Ustadz Zainuddin
  • Al-Ustadz H. Abdul Mu'in
  • Al-Ustadz Amiruddin
  • Al-Ustadz Mahmud Syarkani
  • Al-Ustadz Ahyad Syarkani
  • Al-Ustadz H. Zainal Almi
  • Dan lain sebagainya, termasuk staf-staf yang turut pula mengajar.


TATA TERTIB PONDOK PESANTREN

A. MASALAH IBADAH

  • santri diperbolehkan mengisi shaf 1 s/d shaf 4 dan shaf yang kosong wajib diisi .
  • Santri wajib shalat sunnah qabliyah dan ba'diyah dan juga memiliki siwak .
  • Ba'da Dzuhur wajib tadarus qur'an .

B. MASALAH KEAMANAN

  • Santri yang masbuq atau yang tidak shalat berjamaah akan disanksi 
  • Hari jum'at asrama wajib kosong pada jam 11.45 wita dan wajib memakai pakaian putih 
  • Santri yang ingin keluar pondok wajib izin kepada wali kelasnya dan membayar Rp. 2000,- kepada sekretaris
  • Santri diharamkan merokok di sekitar kompleks Al-Banjari
  • Dilarang mengambil barang orang lain {mencuri} .
  • Bagi yang memiliki HP wajib mengumpulkan HP-nya kepada anggota OSIS dan hanya boleh digunakan pada hari Jum'at dan membayar bulanannya sebesar Rp. 15.000, -.
  • Santri wajib menjaga nama baik pondok pesantren 

Tentang Abuya Kami

Prof.Dr.KH.Ahmad Syarwani Zuhri Al-Banjari




Lahir 8 Agustus 1950 (umur 64)
Bendera Indonesia Sungai Gampa, Rantau Badauh, Barito Kuala, Kalimantan Selatan
Kewarganegaraan Indonesia
Pekerjaan Ulama
Ketua MUI Balikpapan
Agama Islam

312068-126468574117637-10.jpgabuyya-bpp.jpgkh-syarwani-dzuhri.jpg381491-122931727818643-10.jpgabuya-bca-doa.jpg

KH. Ahmad Syarwani Zuhri dilahirkan di desa Sungai Gampa Marabahan Kecamatan Rantau Badauh,Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, kurang lebih 40 km dari kota Banjarmasin, Propinsi Kalimantan Selatan, pada tanggal 08 Agustus 1950, dari pasangan Haji Zuhri bin Haji Acil dan Hajah Marwiyah binti Haji Khalil, Haji Zuhri adalah seorang petani biasa yang bersih dan Wara' billah. Ia lahir dalam lingkungan adat keluarga yang sangat fanatik. Bermula KH. Ahmad Syarwani kecil dimasukkan ke sekolah agama Islam tingkat Ibtidaiyah dan kemudian Tsanawiyah di Madrasah Sulam 'Ulum di desa Sungai Gampa ( tahun 1959 1961) dan telah berhasil menamatkannya, dibawah asuhan dan bimbingan yang mulia KH. Muhammad Marzuki Musthafa.
Kemudian ia melanjutkan ketingkat 'Aliyah di Pondok Pesantren Darussalam di Martapura Kalimantan Selatan (tahun 1962 1970) juga telah berhasil menyelesaikannya, pada masa itu dibawah asuhan Guru Tuha yaitu yang mulia KH. Abdul Qadir Hasan dan KH. Ahmad Sya'rani Arif ( Muhaditsin Kalimantan ).

Disinilah ilmu agama yang dalam dan mulia digali sehingga dahaga akan ilmu sangat dirasakan, begitu pula atas dorongan orang tua dan para guru-guru agama maka dengan izin Allah SWT, ia melanjutkan pula menimba ilmu ke pulau Jawa tepatnya ke kota Bangil Pasuruan Jawa Timur pada sebuah Pondok Pesantren DATU KELAMPAIAN" (setingkat Perguruan Tinggi Islam) selama tiga tahun (1970-1973), dipondok ini ilmu digali dan ditempa, banyaklah kitab-kitab yang ditamatkan yang langsung dibawah pimpinan dan bimbingan yang mulia KH. Muhammad Syarwani Abdan Hafidz Jahullah, Pimpinan dan pendiri Pondok Pesantren tersebut.

KH. Syarwani Abdan adalah orang yang lama bermuqim di kota Mekkah Al-Mukarramah, juga beliau orang Indonesia yang pernah mengajar di Masjidil Haram, Mekkah, maka atas pengarahan dan dorongan serta do'a restu beliau, maka KH.A. Syarwani Zuhri melanjutkan pula ke luar negeri (Saudi Arabia) dan langsung bermuqim / tinggal di sana selama lebih kurang 12 tahun di Mekkah Al-Mukarramah. Dengan perjalanan yang jauh dan waktu yang lama. Selama di Mekkah Al-Mukarramah ia sempat menimba ilmu dari tokoh tokoh Islam dunia, Ulama ulama, guru guru besar Al- Haramain (Mekkah dan Medinah). Sebagian dari mereka bisa kita sebutkan antara lain, yang mulia : Syeikhuna Sayyid Muhammad Amin Quthbi, As-Syekh Muhadditsul Al-Haramain Hasan bin Muhammad Al Masysyat (Mufti Mekkah Al-Mukarramah), As-Syekh Al-'Allamah Muhammad Yasin bin 'Isa Al Fadani Al-Makki (direktur Madrasah Ad-Diniyah Darul 'Ulum Mekkah Al Mukarramah), As-Syeikh Muhammad Nursayif Rahimahullah, Al-Habib Al-'Alim Al-Alamah Abdul Qadir bin Ahmad As- Seggaf (Wali Qutb, Jeddah), As-Syeikh Al-'Arif billah Al Habib Abu Bakar bin Abdullah Al- Habsy, As-Syeikh Al-Muhaditsul Al-Haramain Al-Habib Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al- Hasani, As-Syeikh Isma'il bin Zein al Yamani Al- Makki, Al-Habib Al- Muhadditsul Syu'aib Abu Madyan, As-Syeikh Al-Faqih Al-'Allamah Zakariyya bin Abdullah Billa, As-Syeikh Al- Muahdits Umar Hamdan At-Tunisi.

Dikota Medinah Al-Munawarrah ia sempat pula belajar dan memperdalam ilmu kepada : As- Syeikh al Hafidz Zakariyya Kandahlawi Al- Madani, As-Syeikh Al 'Arif Billah Muhammad Afahmi Al-Madani, As-Syeikh Sayyid Muhammad Al MuntasirAl Kattani (Mufassir). Setelah memakan waktu yang cukup lama di Mekkah dan Medinah, rupanya haus dan dahaga akan ilmu tidak puas puasnya maka berangkatlah ia mengunjungi negeri Syam (Syria, sekarang ini) untuk belajar dan berkenalan dan mengambil ijazah ilmu ilmu Tafsir dan ilmu ilmu Hadits kepada para ulama- ulama di negeri Syam (Syria), antara lain Al- Hafidhz Al-'Alim Allamah Al-Muhaddits Sayyid Muhammad Badaruddin Al-Husaini Ad- Damsyiqi, As-Syekh Al-Allamah Al Arif Billah Izzuddin Al-Ghaznawi, As-Syekh Al-Allamah Al- Mufassir Muhammad As-Syami, As-Syekh Al-'Alim Al-Allamah Muhammad An-Na bhani (pengasuh Madrasah Diniyah An-Nahdlatul Ulum Al-Halabi), As-Syekh Al-'Alim Al-Allamah Rasyid Rasyad Ad-Damsyiqi.

Dari Syam (Syiria) ia lalu pergi pula menuju Iraq dan sempat lagi memperdalam Ilmu dengan beberapa Ulama Besar di Negeri Iraq, antara lain kepada : Al-'Allamah Al-Muhaddits Al Faqir Abdul Hay An-Naisyabur, Al-Allamah Mahmud bin Ahmad Al-Bagdhadi, As-Syekh Al-Arif Billah Muhammad Bisa Ahmad As-Sayad Ar-Rifa'i, As-Syekh Al-'Allamah Al Quthbi Al-Qausil Akbar Muhammad Al-Fasi, Sayyid Ahmad bin Muhammad Mahyuddin Al Husaini.

Setelah Iraq dikunjungi, rupanya berpetualang untuk memperdalam ilmu agama Islam belum cukup di sana dan berangkat lagi menuju Magribi (Marokko, sekarang ini) dan sempat lagi menghirup ilmu dengan ulama ulama di Marokko seperti kepada: Al-Hafidhz Al- Muhaddits Sayyid Ahmad bin Siddiq Al- Ghumary, Al'Alim Al-Allamah Syekh Abdul Aziz Siddiq Al-Ghumary, As-Syekh Al-'Allamah As- Syarif Muhammad Bisa Abbas Al-Fasi Al-Hasani. Sebelum ke Marokko ia sempat pula belajar di negeri piramida Mesir yang cukup terkenal gudangnya ilmu dan para ulama ulama, dan sempat pula berkenalan dan memperdalam ilmu dengan para ulama ulama Mesir yaitu : As- Syekh Al Imam Al 'Arif Billah Sayyid Muhammad bin Shaleh Al-Ja'fari (Imam Mufthi Al-Azhar Syarif, Mesir), As-Syekh Al-Alim Al- Allamah Hasanain Muhammad Makhluf (Mufti Mesir), As-Syekh Prof. Dr. Al-Imam Abdul Halim Mahmud (Rektor Al-Azhar University, Mesir), Al-'Alim Al-Allamah Syekh Muhammad Sulaiman bin Muhammad An-Namiri At- Thanthawi (Rektor University Jami'ah Muhammiyah As-Syafa Thantha).

Dan terakhir hijrah lagi ke Negeri Yaman untuk memperdalam ilmu dengan Ulama-ulama di Negeri Yaman, seperti : As-Syekh Al-Allamah Al-Faqih Yahya Al-Ahdal, Al-Arif Billah Sayyid Abu Madyan Hafidzahullah, As-Syekh Al 'Allamah Al-Faqih Abdullah bin Al-Lahidji, Al- Allamah As-Syekh Al-Muhaddits Al-Yamani Ahmad bin Yahya bin Abdul Wasyi. Selain itu ia juga pernah mengambil ijazah dari ulama-ulama besar Negeri Sudan, yaitu : Syekh Ibrahim Ar-Rasyidi As-Sudani, Syekh Al-'Allamah Ahmad Jabarti Hafidz Jahullah. Selain itu, ia juga pernah melalang buana kenegara-negara Isalam untuk berziarah dan mengambil ijazah ilmu, diantarany a :ke Turki, Yunan Karbala (Maqam Tubuh Sayyidina Husein RA), Tus (Maqam Imam Al-Ghazali RA), Baghdad (Maqam Nabiyullah Yunus AS dan Maqam Imam Hanafi RA), Damaskus (Maqam Nabiyullah Zakaria AS Dan Maqam Nabiyullah Yahya AS). Nawa (Maqam Imam Nawawi RA), Syam (Maqam Sitti Masyithah RA), Qaryatul Khalil (Maqam Nabiyullah Ibrahim AS), Mesir (Maqam Imam As-Syafi'i RA), Madinah (Maqam Imam Malik RA), dan juga maqam Rasulullah SAW, yang lebi h utama. China ( Maqam Sayyidina Sa’ad bin Abu Waqash RA ), Bukhara Tajakistan ( Maqam Imam Bukhari RA ) dan Lain-lain.

Setelah melawat berziarah ke berbagai negara maka ia kembali lagi ke kota Mekkah Al- Mukarramah, karena kerinduan dengan Baitil Atiq (Ka'bah), dan suasana belajar, rindunya hati dengan Rasulullah SAW Di Medinah Al Munawarrah, dan pula atas panggilan murid murid di Mekkah yang mereka mengharapkan kembali aktif mengajar mereka mereka seperti biasa (Para Pelajar Islam Indonesia yang mengaji belajar di Makkah). Begitulah waktu terus berjalan dan tidak terasa, akhirnya pada tahun 1986 ia kembali ke Indonesia, langsung menuju kampung halaman di Sungai Gampa Marabahan Barito Kuala, Kalimantan Selatan dan orang tuanya selalu menanti kedatangan anaknya yang tercinta yang sudah dua belas tahun menetap di Makkah Saudi Arabia.. Atas inisiatif keluarga, ia kemudian membeli rumah di Martaputra, yaitu di Jalan Pesayangan Gang Kurnia RT I / No. 1. Setelah beberapa saat menempati rumah yang baru dibeli, sambil merasakan nikmatnya baraqahnya berkumpul dengan guru guru dan ulama ulama di Martapura, pada masa ini seperti : KH. Samman Mulia Hafidz Jahullah, KH. Muhammad Zaini Ghani Hafidz Jahullah, KH. Husin Dahlan Hafidz Jahahullah, KH.M. Ramli Radhi Hafidz Jahullah, KH. Badaruddin Hafidz Jahullah, KH. M. Royani Hafidz Jahullah, Dan lain-lain.

Dalam sedang lezatnya tinggal di Martapura, maka beberapa keluarga, kawan seperguruan sekaligus gurunya KH. Muhammad Shafwan ( Guru Handil ) Handil 6 Muara Jawa sangat mengharapkan supaya ia bisa mengajar di Balikpapan khususnya, Kalimantan Timur umumnya. Maka setelah melalui istikharah dan sambil menanti saran saran serta pertimbangan dari guru yang mulia KH. M. Syarwani Abdan Bangil. Kiranya Qadar Allah SWT berlaku jua, dengan penuh rasa ikhlas pindah dari Martapura dan menetap di Balikpapan. Dengan bantuan dan dorongan istri yang setia maka dapat membeli rumah /tempat tinggal sendiri yang sederhana, di Balikpapan Timur, Balikpapan. Pada pertengahan tahun 1987 mulai diadakan kegiatan untuk mendirkan Pondok Pesantren yang diberi nama Pondok Pesantren "Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari" Balikpapan. yang luasnya kurang 30 Ha. Yang sebelumnya terletak di Km 30, dan 6 Ha. Kemudian sebelum rampung lokasi pondok pesantren dipindahkan ke Km 19,5 Jalan Raya Balikpapan – Samarinda hingga sekarang.